Worriestic (Part 4)

Part 4

 

“Aduh!” Megu terjerembab ke semak-semak. Kepalanya agak pening. Gadis kecil itu mencoba berdiri. Lalu dia menatap ke sekelilingnya. “Tempat macam apa ini?” Gadis itu memandang pohon apel di hadapannya. Ya, pohon apel bertebaran sejauh mata memandang. Kepala mungilnya menengok ke segala arah, memastikan pemilik kebun apel itu tidak ada. Lalu Megu memetik satu apel dari sebuah ranting yang terjulur di depannya karena lapar. Tanpa berpikir gadis kecil itu mulai menggerogoti dan menikmati sensasi segar apel hijau digenggamannya. “Wah, lumayan juga,” decaknya.

“Hei pencuri apel!” sebuah teriakan anggun terdengar dari sela-sela pohon apel. Megu gelagapan, lalu menoleh ke belakang dengan panik. Gadis berkulit halus dengan dress hijau tosca dan sweater ungu muda sedang menunggangi seekor kuda putih yang berjalan menuju ke arahnya. Bibirnya tipis dan sorot matanya menggoda. Rambut pirang panjang bergelung hingga ke punggung. Oh Tuhan, dia benar-benar cantik.

“Dia lebih cantik dari gadis manapun yang pernah kulihat!” gumam Megu takjub. Gadis cantik itu melompat dari atas kuda. “Halo, aku Thearace,”

Megu melongo. “Aku Megu,” Thearace berjalan bak fashion model menghampiri Megu kemudian setengah berjongkok di hadapannya. “Oh, gadis kecil yang malang.. kau pasti lapar,” katanya iba. Megu mengangguk dengan gugup. “Berdiri dan duduklah di atas kudaku,” Thearace mengulurkan jari-jarinya yang lentik. Megu menyambar tangan Thearace dengan cepat kemudian bangkit. “Terima kasih,” kata Megu pendek.

***

Welcome! Hei Welcome! In the Worriestic Land.. Welcome! Hei Welcome! Hei Sweeety Giiiirl~” kurcaci-kurcaci bertopi polkadot berjalan berbaris di gerbang menyambut mereka dengan ramah. “Selamat datang di buku dongeng, Megu..” gumam Megu sumringah.

Kuda putih Thearace berhenti di depan sebuah bilik sederhana. Thearace melompat ke rumput dengan cekatan. Lalu Megu mencoba turun dari kuda degan ragu-ragu. “Tidak apa-apa, kok,” rayu Thearace sambil tertawa.

“Nah, mari masuk.. anggap saja ini rumahmu sendiri,” Thearace mengetuk-ngetuk pintu itu dengan ketukan berirama. Tak lama kemudian pintu kayu itu terbuka, tapi tidak ada orang di dalam. “APAKAH RUMAHMU BERHANTU, THEARACE?” Megu terlonjak.

“Hahaha, jangan konyol.. tidak ada hantu atau semacamnya di Worriestic. Pintu ini memang didesain khusus dengan teknologi ketukan,” jelas Thearace sambil melangkah masuk. Megu kemudian mengekornya.

Rumah Thearace memiliki bau sejuk yang khas, langit-langit nya lumayan tinggi. Banyak lampion berbentuk kerucut di berbagai sisi. Lalu Megu melirik ke sudut koridor, disitu ada buku besar bersampul hitam dengan simbol-simbol dan bau aneh. “Buku apa itu, Thearace?” Tanya Megu sambil menunjuk. Thearace menoleh ke arah telunjuk Megu. Wajahnya sekilas mengerut, kemudian dia kembali tersenyum. “Ehm.. i..itu yaa itu buku. Sudahlah tak usah dipikirkan toh tak ada urusannya denganmu,” Thearace buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Mau es krim vanilla ceri?” tawarnya. “Boleh!” sorak Megu girang sembari melompat ke atas sofa empuk di ruang depan.

Finally part 4 has been published! I'm so sorry for late upload this part, but I hope you enjoy it :)
Advertisements