Worriestic (Part 3)

#Part3

Hirai membuka pintu kamarnya, dia hendak ke kamar kecil. Sambil mengacak-ngacak rambut kusamnya gadis itu melihat raut wajahnya yang malas di depan cermin wastafel.

“Hhh.. Bahkan aku tidak bisa merawat diriku sendiri,” gumamnya.

Hirai menengadah ke balkon lantai dua. Bola matanya bergerak mencari sosok adiknya. “Meguu! Bisa tolong belikan aku sampo?” hening. “Megu!” kembali hening. “Ya ampun, dasar bocah,” Hirai berlari ke tangga dan menghentak-hentakan kakinya ke setiap anak tangga yang dinaikinya.

Hirai cepat-cepat membuka pintu kamar adiknya. “Megu!” tapi di kamar tidak ada orang. “Dimana sih, anak itu?” tanyanya kesal pada diri sendiri. Hirai mencari Megu ke setiap ruangan, bahkan lemari pendingin sekalipun. Dia juga mengecek keranjang pakaian di halaman belakang. “Oh, Tuhan. Masak’ iya bocah itu kabur?”

Karena letih mencari, gadis berambut ikal itu bersandar di tiang jemuran. Dia melihat ada semburat pelangi melengkung di atasnya. Perpaduan semilir angin dan bunyi gemericik air di sungai belakang terasa nyaman.. membuat Hirai terkantuk-kantuk..

“Kakak!” Megu tiba-tiba berdiri di samping tiang jemuran. Hirai tersentak, “Dari mana saja kamu?”

“Aku baru saja dari tempat yang menyenangkan! Disana aku sudah punya kakak perempuan yang cantik.. dan tentu saja tidak jahat sepertimu!” sahutnya bahagia.

“Kakak perempuan cantik.. apa? Jangan berkhayal, anak kecil!” Hirai berdiri sembari membersihkan dedaunan kering yang menempel di bajunya. “Nah, sekarang tolong belikan sampo ya!” tapi tiba-tiba Megu menghilang dengan sendirinya.

Hirai memandang sekeliling. Dia agak shock.

“Kakaak!” Megu melambai-lambai dari jendela loteng. Hirai menoleh ke atas, lalu tanpa diduga Megu melompat dari kusen jendela, terlihat seperti mencoba untuk mati. Hirai tersentak. Tubuh adiknya perlahan-lahan pudar dan berubah menjadi pelangi. “APA?!”

Buzz! Pelangi itu lalu terbakar dengan pekikan aneh dan lenyap seketika.

“MEGU!” Hirai bangkit dari lelapnya. Dengan bingung dia menatap jendela loteng. Pelangi itu! Pelanginya benar-benar ada! Hirai dengan cekatan berlari ke lantai tiga.

“Kotor sekali disini..” gumamnya setelah sampai di lantai tua itu. “Aku rasa tidak mungkin bocah penakut itu ada disini.. lihat saja dindingnya sebegitu mengerikannya,” Hirai mencoba menghindari tembok yang penuh dengan jamur dan rambatan lumut. Tiba-tiba terdengar suara tawa anak kecil dari balik sebuah pintu. Hirai terhenti melangkah.

“Ya ampun,” decaknya. “Ini horor,”

Part 4 soon:) Like, comment, and share! Thankyou so much readers!