Worriestic (Part 2)

#Part2

Rumah besar bercat jingga dengan pagar semi kayu itu terlihat sunyi dan tak terawat. Memang, semenjak Ayah dan Ibu tiada Hirai dan Megu terpaksa hidup mengenaskan. Kerabat-kerabat tidak ada yang mau merawat mereka, katanya hanya akan menambah beban dan mengganggu kesibukan karir.

Sudah dua tahun ini Hirai menggeluti usaha kartu nama sebagai pekerjaan sampingannya untuk menghidupi mereka berdua. Pesanan yang diterimanya kadang menumpuk hingga dikerjakannya sampai larut, namun kadang juga hanya seorang pelanggan yang memintanya membuatkan kartu. Penghasilannya pun tidak seberapa, tapi yah.. cukuplah untuk makan dua kali sehari.

Seperti hari ini, gadis lima belas tahun itu kini tengah sibuk di depan meja kerjanya.

“Kakaak!” Megu tiba-tiba menggedor-gedor pintu kamar kakaknya. “Bisa diam, nggak sih?” sahut Hirai.

“Bantu aku kerjakan PR dong, Kak.. sekali in-” Hirai cepat-cepat memotong. “Pergi!” teriaknya. “Aku sangat sangat sibuk dan aku TIDAK PUNYA WAKTU untuk itu!!” Megu terlonjak. Jantungnya serasa berhenti seketika. Tidak pernah sebelumnya dia mendengar Hirai memarahinya.

“Enyahlah. Kamu.. cuma menyulitkanku,” Megu bisa mendengar desah pelan kakaknya dari balik pintu.

Kemudian gadis sembilan tahun itu menunduk, dia tidak menyangka Hirai yang baik kini seperti penyihir dalam dongeng. Sambil menahan tangis Megu mendekap buku pelajarannya lalu berlari kecil menuju halaman belakang.

***

Megu merebahkan diri di atas rerumputan. Mata sembabnya menerawang ke langit. Andai aku tidak serumah dengan orang sibuk itu, tentu aku bahagia.. Lalu tiba-tiba matanya menangkap seberkas cahaya warna-warni yang menari-nari di atas loteng. Dahinya mengerut.

Pelangi? Bukankah ini musim kemarau? Dia mencari-cari bekas hujan di rerumputan, namun nihil. Karena penasaran, Megu dengan semangat tinggi berlari ke tangga menuju lantai tiga.

“Uhuk, uhuk..”

Lantai tiga penuh dengan debu. Sejak mereka pindah ke sini dua tahun lalu, lantai ini memang belum terjamah oleh siapapun di rumah itu. Ayah sengaja menutup tangga menuju kesana dengan tripleks. Banyak jaring laba-laba yang menggantung di langit-langit dan kecoak-kecoak kecil yang mondar-mandir. Untuk sesaat, suasananya memang mencekam.. namun pandangannya langsung teralih pada pintu kecil di ujung lorong. Pintu loteng dia rasa.

Krieeett…  Megu membuka pintu itu perlahan-lahan.

Benar! Pelangi itu berasal dari sebuah cermin tua di pojok loteng. Megu berjalan mendekati cermin itu karena tertarik dengan warnanya yang seakan membuai dan menariknya untuk lebih dekat. “Ya ampun.. indah sekali, Kak Ray benar-benar harus melihatnya..” gumam Megu dengan takjub.

Dia berjalan semakin dekat menuju cermin kemudian kakinya tersandung sebuah kotak berdebu di depannya. “Aahh!” tubuhnya doyong ke depan dan terjatuh. Ya, terjatuh. Benar-benar terjatuh ke dalam cermin.

Part 3 soon. Thanks readers! Don't forget to like, comment, and share!