Worriestic (Part 1)

#Part1

Hirai buru-buru membuka pintu toko dan langsung berlari keluar tanpa memedulikan uang kembaliannya. Dia berlari-lari kecil menyusuri Jalan Raya Walker sambil menenteng tas karton berisi kotak hitam mungil.

Kotak itu berisi jam tangan perak unik buatan Prancis yang selalu direngekkan ibunya setiap kali melewati Coolwatch Store. Dia nyaris lupa hari ini adalah hari ulang tahun ibunya! Aduh, gawat! Pasti Megu dan Ayah sudah tidak sabar menungguku di rumah, batinnya.

“Kak Ray datang!” Megu melompat dari sofa dan langsung membukakan pintu. Hirai cepat-cepat melepas sepatunya dan menaruh kotak hitam yang dibawanya di atas meja di ruang keluarga.

Meja itu sudah penuh dengan kue tar yang masih hangat dan beberapa kado lain dari Megu dan Ayah. Balon warna-warni dan pita-pita norak dipasang rapi di tiap pojok langit-langit. “Hirai! Akhirnya kamu datang!” sambut Ayah.

“Jam berapa ini? Aku pikir Ibu sudah di rumah,” gumam Hirai pada dirinya sendiri sambil menengok ke arah jam dinding. Waw, masih sepuluh menit lagi! Secepat itukah aku berlari? Batinnya sambil tersenyum. Lalu matanya menatap handphone yang digenggam Ayah. “Oh ya, Yah. Apakah Ayah sudah mengabari Ibu untuk pulang cepat?” Ayah menatap layar telponnya sambil menguap. “Sudah beberapa kali Ayah coba telpon tapi handphone-nya selalu tidak aktif,” raut mukanya sedikit kesal. “Padahal kan biasanya bla bla bla..”

Hirai memutar bola matanya. Kemudian dia menyibukkan diri dengan menata kue-kue di atas meja. Celoteh Ayah sering terlalu berkepanjangan, Hirai jadi mual mendengarkannya. Lalu Ayah tiba-tiba berjingkrak-jingkrak seraya melambaikan kedua tangannya. “Wuhuu, ini pertama kalinya kita mengadakan pesta di rumah baru, bukan? Oh, Ayah sungguh senang!” Hirai dan Megu saling melempar pandangan, mereka lalu tertawa melihat tingkah konyol ayahnya.

Drrt.. Drrt.. handphone Ayah tiba-tiba bergetar. Ayah terlihat sumringah menerima telpon itu.“Ya, Halo? Ada apa Pak Cate?” Ah ya, pasti ada kabar gembira tentang ibu. Mungkin ada kenaikan prestasi di bidangnya. Pak Cate tentu bisa saja menaikkan posisi ibu ke tingkat manajer, bukankah dia seorang direktur perusahaan?

Namun tiba-tiba senyum ayah mendadak berubah menjadi lengkungan menakutkan dan matanya membulat.

“Jangan bercanda!” Hirai bergidik melihatnya. Ayah diam tak berkedip untuk beberapa saat, seakan-akan dia juga berhenti bernapas. “Kenapa, Ayah?” tanya Hirai penasaran.

Ayah seperti tak mampu untuk berkata-kata, telpon yang digenggamnya terhempas ke lantai begitu saja. Megu melompat kaget. Hirai segera menghampiri Ayah sambil terus menerus menanyakan apa yang terjadi.

“Kebakaran..” gumam Ayah tak jelas. Matanya berkaca-kaca, bola matanya bergerak menatap Hirai.

“I..i..Ibu..” Hirai terbelalak, tangannya menutup mulut agar tidak berteriak. Megu yang masih berumur tujuh tahun menjerit keras dan menangis. Ayah  menyusut matanya dengan ibu jari kanan, lalu berlari keluar dan melompat ke dalam mobil.

“Ayahh!!” jerit Megu seraya berurai air mata. “Aku ikut, Ayah!”

Hirai menahan lengan Megu. “Diamlah di rumah! Ayah mencintai kalian!” teriak Ayah dari dalam mobil. Megu meronta-ronta dan berlari menuju mobil. Ayah cepat-cepat tancap gas tanpa memedulikan isak tangis bungsunya. Megu mengejar mobil Ayah sampai ke tikungan. Hirai berlari menyusul Megu yang terduduk di tengah jalan sambil menangis menjerit-jerit. “AYAAHH!!”

Hirai memeluk Megu dan mengusap air matanya. “Sudah, jangan menangis. Ayah dan ibu akan baik-baik saja..”Tanpa sadar matanya juga telah basah. Hirai mendekap Megu semakin erat, dia juga takut.

“Ayah.. Ibu.. mengapa aku punya firasat mengerikan?” gumamnya.

What do you think? Like, comment, and share!
Part 2 soon! :)