Worriestic (Final)

This is the last chapter of Worriestic! Happy reading, and hope you enjoyed!

 

Thearace membuka pintu sel tempat Hirai dikurung dengan kasar. Hirai masih memandangi matahari yang sebentar lagi akan terbenam sambil menangis. “Ambil saja aku! Asal tidak adikku!” Hirai memohon-mohon di kaki Thearace sambil terisak. Thearace tidak banyak bicara, dia menyeret Hirai ke tempat ‘pertukaran jiwa’ sesuai perintah tuannya.

Megu dengan tampang polos didudukkan di atas kursi mesin oleh kurcaci-kurcaci gila. Hirai melihatnya dari jauh, Megu balas menatapnya tapi seakan dia tidak kenal dengan kakaknya sendiri.

Sosok berjubah gelap dengan satu mata yang tertutup kain bak bajak laut itu muncul dan berjalan menghampiri Megu, tawanya menggelegar seperti guntur. “Setelah sepuluh tahun lalu aku gagal menukar jiwa Carina dengan Sicha.. dan itu menyebabkan Carina yang malang mati dengan sia-sia.. tapi sekarang, setelah lama aku menunggu, aku akan memakai jiwa bocah ini untuk menghidupkan putriku!” DarkEye tertawa mengerikan. “Ta.. tapi kau sudah berjanji, jika aku mendapatkan Megu aku berhak mendapatkan jiwanya untuk Carina!”  tolak Thearace hampir menangis. “Kau pembohong!!”

DarkEye menyeringai, tatapannya menusuk bola mata Thearace. “Kau bodoh memercayai aku,” gumamnya senang. Kemudian DarkEye melempar kapak di genggamannya ke arah Thearace, bermaksud untuk membunuhnya. Hirai mendorong Thearace menjauh namun kapak itu berhasil menyerempet kakinya.

DarkEye cepat-cepat menyalakan mesin, beberapa detik kemudian cahaya warna-warni yang berubah menjadi putih silau memancar dari tubuh Megu lalu meledak. Sosok Megu di atas kursi berubah menjadi gadis lain dengan rambut berponi. Sicha.

“Sichaa!!” DarkEye berlari ke atas kursi untuk mengambil Sicha berjiwa Megu. “Meguu!!” Hirai juga dengan cekatan mencoba menangkap Megu bertubuh Sicha. Brug! DarkEye terjatuh di atas mesin dan itu cukup membuatnya kesakitan. Hirai langsung menarik Sicha ke punggungnya.

Hirai menggendong Sicha berjiwa Megu dengan terpincang-pincang. Thearace menggeser balok kayu yang menyembunnyikan cermin untuk kembali ke dunia nyata Dengan susah payah Hirai menyeret kakinya menuju cermin.

“Kembalikan putriku!!” DarkEye melontarkan pisau gerigi ke arah Hirai dari samping. Pisau itu berhasil menyayat perutnya dan menimbulkan luka yang agak parah. Hirai ambruk dua langkah di hadapan cermin. Sicha jatuh berguling-guling dan terhisap ke dalam cermin.

“Terima kasih, Thearace.. setidaknya kau telah menolong adikku..” Walaupun sebentar lagi dia akan mati, Hirai tetap tersenyum karena adiknya bisa kembali dengan selamat..

Olive Hirai, si gadis yatim piatu. Mungkin ini adalah waktu terakhirnya di dunia. Mungkin ini adalah saatnya dia menyusul ayah dan ibunya. Mungkin di sinilah kisah hidupnya berakhir.. Hirai menutup matanya.

Dingin.. basah.. oh beginikah rasanya di dalam surga? “Kakak.. kakak..” samar-samar terdengar suara anak kecil memanggil. Megu? Apakah kau juga mati?

“KAKAAK!” Hirai tersentak. Spontan matanya terbelalak dan berkunang-kunang. “Enyah kau! DarkEye! DarkEye!” Hirai memukul-mukul hiasan berbentuk ikan di dinding. Megu mengguyurkan segelas air lagi ke kepala Hirai hingga kuyup. Hirai diam sejenak untuk mengembalikan pikirannya. “Ah, Megu..? Sedang apa kau di sini?” tanya Hirai linglung. Megu berdiri dengan raut jengkel di depannya.

“Dari tadi aku ingin ke toilet tapi dikunci, lalu aku ingat kuncinya ada di atas kasur kakak, tapi pintu kamar kakak terkunci dan kakak tidak mau membukakan pintu padahal aku sudah berteriak, akhirnya aku memanjat ke balkon dan masuk lewat jendela, ternyata kakak sedang asyik ngorok, ya, sudah aku bangunkan!” jelas Megu berapi-api. Hirai tertawa. Dia senang mereka bisa kembali bersama di dunia nyata. “Aaahh, maafkan Kakaak!” Hirai menghambur memeluk Megu. “Maafkan aku sudah mengacuhkanmu selama ini.. tolong maafkan.. dan jangan pernah berpaling..” Hirai bercucuran air mata. Dia tidak ingin mimpinya menjadi nyata.

Megu memutar bola matanya. “Iyaa, iyaa.. ada apa sih, kok tiba-tiba dramatis begini?” Hirai terisak-isak dan tidak bisa berhenti. “Sudah, lepaskan! Di mana kunci toiletnya? Aku tidak tahaaan!” Megu loncat-loncat tak keruan.

***

Ting, Tong! Bel berbunyi beberapa hari kemudian. Hirai membukakan pintu untuk seorang gadis cantik sekitar umur 25 tahunan dan gadis kecil di sampingnya. “Apakah ini rumah Nyonya Alice Meria?” tanyanya ramah. Hirai mengangguk.

“Tante Thearace!” Megu tiba-tiba muncul di samping Hirai. “Hai, Megu. Oh pasti kau Hirai, bukan?” katanya sambil nyengir. Hirai mengangguk kaku. Apakah ia tak salah dengar? “Kita memang belum pernah bertemu, tapi Megu dan aku sudah saling mengenal saat acara malam di Bignorth tiga tahun lalu,” jelasnya. “Iya, Kakak sih tidak ikut! Padahal acaranya seru ya, Tante?” Wanita yang disebut Tante itu mengangguk ramah.

“Ya, perkenalkan aku Thearace Meria, dan ini adikku, Carina Meria. Kami adik dari ibumu,” Hirai tersedak mendengar nama itu. “10 tahun yang lalu keluarga Meria tinggal di rumah ini.. tapi kemudian ayah mewariskannya kepada Alice, dan kami pindah ke New Finkle. Tapi karena khawatir pada kalian akhirnya kami memutuskan untuk pindah kemari,” Megu melompat girang. “Horraay! Tante Thearace dan Tante Carina akan tinggal di sini!”

***

Minggu pagi yang cerah, Thearace mengajak seisi rumah untuk bersih-bersih dan beres-beres. Thearace membagi tugas; Lantai 1 oleh Hirai dan Carina, lantai 2 oleh Thearace dan Megu, sedangkan halaman dan lantai 3 oleh semuanya.

Di lantai tiga mereka harus bekerja ekstra. Mengecat ulang dinding, membersihkan dan menata perabotan antik yang tercecer, juga membereskan loteng. Hirai seperti merasa trauma masuk ke dalam loteng, ya meski sebenarnya itu hanya mimpi. Thearace masuk duluan ke dalam loteng. Lalu dia menatap cermin persegi panjang di pojokan. “Cermin ini..” gumamnya.

“Hmm.. kurasa cermin ini masih bagus,” Carina berkacak pinggang. “Ya, ayo kita bersihkan dan taruh di ruang tv!”

Selagi anak-anak itu mengelap cermin yang berdebu, Thearace mengelap jendela bersama Hirai. “Kau tahu? Cermin itu pernah membawaku ke sebuah tempat aneh,” celetuk Hirai tiba-tiba. “Hmm, apakah itu Worriestic?” tebak Thearace. Hirai mengangguk dengan cepat. “Ya, dulu saat masih seumuranmu aku juga pernah bermimpi terjatuh ke dalamnya, dan itu seakan-akan nyata,” Hirai kaget tak tebendung. “Apa kau juga kenal Sicha?” tanya Hirai. “Sicha.. putri dari DarkEye?” Thearace mengangguk-angguk lagi, kali ini lebih cepat. “Iya, dia juga dulu pernah tinggal di rumah ini dan mengalami hal yang sama dengan kita,” Hirai melongo. “Haha, dulu juga aku kaget mengetahuinya,”

Megu mengelap bingkainya. “Wah, ada ukirannya.. hmm, apa ini? W..wor..worri.. Worriestic?” Megu membacanya. Hirai dan Thearace bertukar pandang.

Thearace menceritakan, bahwa Sicha atau lengkapnya Rasicha Deona saat ini telah tumbuh menjadi remaja cantik di Kota New Finkle. Ayah Sicha ternyata adalah teman dekat kakek Hirai sekaligus pemilik pertama rumah itu. DarkEye di dunia Worriestic bukanlah ayah Sicha yang sesungguhnya di dunia nyata. Sebenarnya DarkEye (si Mata Gelap) adalah panggilan untuk Tuan Boy Wilton sang perancang rumah profesional. Dia sangat menginginkan anak perempuan seperti Sicha yang saat itu masih berumur tujuh tahun dan menganggapnya sebagi putrinya sendiri.

Tuan Boy ahli dalam bidang matematika dan mencintai kerumitan. Lalu dia mencoba bereksperimen membuat cermin berteknologi, namun kinerjanya salah dan dia malah tersedot masuk ke dalam cermin. Dan ya, tentu saja itu juga hanyalah mimpi. Mimpi-mimpi serupa yang turun temurun tiga generasi.

***

Setelah datangnya Thearace dan Carina, hidup Hirai dan Megu tak sama lagi. Berkat bisnis sepatu Thearace, Hirai dan Megu bisa makan enak setiap hari. Carina juga ternyata gadis yang rajin dan sopan, Megu dan Carina berada di sekolah yang sama sekarang. Hirai bisa kembali fokus bersekolah dan bergaul seperti kehidupannya dulu. Thearace tak lama kemudian menikah dengan pria cerdas dan sukses yang juga ikut tinggal di rumah mereka. Kini rumah jingga itu hangat dan menyenangkan berkat kebersamaan sebuah keluarga. []

Finally, Worriestic short story has finished! Thankyou so much, makasii banyak kalian-kalian yang udah nyempetin waktu buat baca cerpen amatiran ini :v
Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi yaaa Aamiin. Don't forget to like, share, and comment ya. I'll write another short story, ASAP! :)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s