Worriestic (Part 5)

#Part5

“Tempat konyol macam apa ini?” Hirai menepuk-nepuk bajunya yang kotor. “Menembus cermin dan kemudian terjatuh di kebun apel, benar-benar di luar akal,” celotehnya. “Meguu!” Hirai mencoba memanggil nama orang yang dicarinya. Tapi kemudian dia berpikir, sepertinya sia-sia mencari seorang anak kecil di tempat sepi seperti ini.

“Halo, apakah ada orang di sini?” begitu sunyi dan kelihatannya tidak ada orang. “Sial, benar-benar menyebalkan,” Hirai menendang apel-apel busuk yang berserakan di tanah. Matanya lalu menangkap siluet pudar sebuah bangunan, dan dia mulai berjalan mengikuti arah siluet itu.

Sosok berjubah gelap menyeret kaki palsunya perlahan. Bola matanya yang tinggal satu menyembul menatap Hirai yang pergi semakin jauh.. Bibirnya melebar, semuanya berjalan sesuai rencana.

***

Megu bersendawa. Es krim Vanilla Ceri buatan Thearace cocok di lidahnya, Megu bahkan hingga ketiduran karena saking nikmatnya. Thearace membangunkan Megu.

“Ayo bergegas, aku akan membawamu ke suatu tempat yang istimewa,” Megu menuruti kata-kata Thearace yang sudah menunggu di atas kuda dan segera menyusulnya.

Di perjalanan Megu banyak bertanya tentang kehidupan Thearace. Thearace lebih banyak diam dan mengalihkan pembicaraan jika pertanyaannya bersangkutan dengan pekerjaannya selama ini.

“Thearace, apakah kau mempunyai keluarga?” tanya Megu tiba-tiba. Mendengar pertanyaan itu Thearace mendadak murung.

Ibunya hangus dalam insiden kebakaran dan ayahnya meninggal di hari yang sama pada kecelakaan. Sedangkan adiknya, Carina hilang dua tahun kemudian dan beberapa hari setelah itu seorang aneh mengembalikannya dalam keadaan tak bernyawa.

“Thearace?”

“Hey lihat! Kita sudah sampai,” Thearace buru-buru mengganti obrolan dan memberhentikan kudanya di tengah-tengah padang rumput nan luas. Megu melompat turun dengan wajah bingung. “Padang rumput? Apanya yang istimewa?”

Thearace menyeringai. “Kau akan melihatnya sendiri,” gadis pirang itu berlari bebas ke arah barat. “Lihatlah mataharinya!” katanya sambil menunjuk ke arah langit. “Sebentar lagi ada sunset indah,”

***

Beberapa meter di belakang, Hirai dengan baju compang camping dan wajah kotor berjalan malas dengan ranting panjang sebagi penopang. “Haus sekali.. aku butuh air,” Hirai celingak-celinguk mencari sungai. Namun di sekelilingnya hanya terhampar rerumputan hijau. Samar-samar dia melihat orang lain berdiri di sana. “Hei! Hei yang di sana!” dengan semangat berkobar Hirai berlari kencang menghampiri seseorang di tengah sabana.

“Hai, maaf mengganggu,” katanya terengah-engah. “Apa kau tahu letak sungai terdekat dari sini?” Thearace membalikan badan. “Siapa kau?” tanyanya ketus. “Aku.. aku..” Hirai melirik orang lain di belakang Thearace.

Megu?!

“MEGU!” Hirai menjerit. Megu menoleh. Thearace kemudian tersentak. Mengapa.. orang ini kenal dengan Megu? Hirai mencoba untuk menghampiri adiknya namun Thearace buru-buru menahannya. “Jangan dekati adikku,” kata Thearace mantap. Mata Hirai membulat. “Adikmu? Jangan bodoh, dia adikku!”

Tiba-tiba sebuah tangan besar dan keriput mencengkeram lengannya.Terdengar sebuah bisikan serak di kuping kanan Hirai. “Adikmu akan mati setelah matahari terbenam.. Aku butuh jiwanya untuk membangkitkan putriku..” lalu suara itu perlahan memudar. “Siapa ka–”

Makhluk itu menyuntikkan cairan bius sebelum Hirai sempat melanjutkan kata-katanya. Ia berhasil membuat gadis itu roboh ke tanah. “Seret dia ke penjara bawah tanahku! SEKARANG!!!”

The ending and all the answers of the story will be in the next part:
Special Part (Final) coming soon!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s