Worriestic (Final)

This is the last chapter of Worriestic! Happy reading, and hope you enjoyed!

 

Thearace membuka pintu sel tempat Hirai dikurung dengan kasar. Hirai masih memandangi matahari yang sebentar lagi akan terbenam sambil menangis. “Ambil saja aku! Asal tidak adikku!” Hirai memohon-mohon di kaki Thearace sambil terisak. Thearace tidak banyak bicara, dia menyeret Hirai ke tempat ‘pertukaran jiwa’ sesuai perintah tuannya.

Megu dengan tampang polos didudukkan di atas kursi mesin oleh kurcaci-kurcaci gila. Hirai melihatnya dari jauh, Megu balas menatapnya tapi seakan dia tidak kenal dengan kakaknya sendiri.

Sosok berjubah gelap dengan satu mata yang tertutup kain bak bajak laut itu muncul dan berjalan menghampiri Megu, tawanya menggelegar seperti guntur. “Setelah sepuluh tahun lalu aku gagal menukar jiwa Carina dengan Sicha.. dan itu menyebabkan Carina yang malang mati dengan sia-sia.. tapi sekarang, setelah lama aku menunggu, aku akan memakai jiwa bocah ini untuk menghidupkan putriku!” DarkEye tertawa mengerikan. “Ta.. tapi kau sudah berjanji, jika aku mendapatkan Megu aku berhak mendapatkan jiwanya untuk Carina!”  tolak Thearace hampir menangis. “Kau pembohong!!”

DarkEye menyeringai, tatapannya menusuk bola mata Thearace. “Kau bodoh memercayai aku,” gumamnya senang. Kemudian DarkEye melempar kapak di genggamannya ke arah Thearace, bermaksud untuk membunuhnya. Hirai mendorong Thearace menjauh namun kapak itu berhasil menyerempet kakinya.

DarkEye cepat-cepat menyalakan mesin, beberapa detik kemudian cahaya warna-warni yang berubah menjadi putih silau memancar dari tubuh Megu lalu meledak. Sosok Megu di atas kursi berubah menjadi gadis lain dengan rambut berponi. Sicha.

“Sichaa!!” DarkEye berlari ke atas kursi untuk mengambil Sicha berjiwa Megu. “Meguu!!” Hirai juga dengan cekatan mencoba menangkap Megu bertubuh Sicha. Brug! DarkEye terjatuh di atas mesin dan itu cukup membuatnya kesakitan. Hirai langsung menarik Sicha ke punggungnya.

Hirai menggendong Sicha berjiwa Megu dengan terpincang-pincang. Thearace menggeser balok kayu yang menyembunnyikan cermin untuk kembali ke dunia nyata Dengan susah payah Hirai menyeret kakinya menuju cermin.

“Kembalikan putriku!!” DarkEye melontarkan pisau gerigi ke arah Hirai dari samping. Pisau itu berhasil menyayat perutnya dan menimbulkan luka yang agak parah. Hirai ambruk dua langkah di hadapan cermin. Sicha jatuh berguling-guling dan terhisap ke dalam cermin.

“Terima kasih, Thearace.. setidaknya kau telah menolong adikku..” Walaupun sebentar lagi dia akan mati, Hirai tetap tersenyum karena adiknya bisa kembali dengan selamat..

Olive Hirai, si gadis yatim piatu. Mungkin ini adalah waktu terakhirnya di dunia. Mungkin ini adalah saatnya dia menyusul ayah dan ibunya. Mungkin di sinilah kisah hidupnya berakhir.. Hirai menutup matanya.

Dingin.. basah.. oh beginikah rasanya di dalam surga? “Kakak.. kakak..” samar-samar terdengar suara anak kecil memanggil. Megu? Apakah kau juga mati?

“KAKAAK!” Hirai tersentak. Spontan matanya terbelalak dan berkunang-kunang. “Enyah kau! DarkEye! DarkEye!” Hirai memukul-mukul hiasan berbentuk ikan di dinding. Megu mengguyurkan segelas air lagi ke kepala Hirai hingga kuyup. Hirai diam sejenak untuk mengembalikan pikirannya. “Ah, Megu..? Sedang apa kau di sini?” tanya Hirai linglung. Megu berdiri dengan raut jengkel di depannya.

“Dari tadi aku ingin ke toilet tapi dikunci, lalu aku ingat kuncinya ada di atas kasur kakak, tapi pintu kamar kakak terkunci dan kakak tidak mau membukakan pintu padahal aku sudah berteriak, akhirnya aku memanjat ke balkon dan masuk lewat jendela, ternyata kakak sedang asyik ngorok, ya, sudah aku bangunkan!” jelas Megu berapi-api. Hirai tertawa. Dia senang mereka bisa kembali bersama di dunia nyata. “Aaahh, maafkan Kakaak!” Hirai menghambur memeluk Megu. “Maafkan aku sudah mengacuhkanmu selama ini.. tolong maafkan.. dan jangan pernah berpaling..” Hirai bercucuran air mata. Dia tidak ingin mimpinya menjadi nyata.

Megu memutar bola matanya. “Iyaa, iyaa.. ada apa sih, kok tiba-tiba dramatis begini?” Hirai terisak-isak dan tidak bisa berhenti. “Sudah, lepaskan! Di mana kunci toiletnya? Aku tidak tahaaan!” Megu loncat-loncat tak keruan.

***

Ting, Tong! Bel berbunyi beberapa hari kemudian. Hirai membukakan pintu untuk seorang gadis cantik sekitar umur 25 tahunan dan gadis kecil di sampingnya. “Apakah ini rumah Nyonya Alice Meria?” tanyanya ramah. Hirai mengangguk.

“Tante Thearace!” Megu tiba-tiba muncul di samping Hirai. “Hai, Megu. Oh pasti kau Hirai, bukan?” katanya sambil nyengir. Hirai mengangguk kaku. Apakah ia tak salah dengar? “Kita memang belum pernah bertemu, tapi Megu dan aku sudah saling mengenal saat acara malam di Bignorth tiga tahun lalu,” jelasnya. “Iya, Kakak sih tidak ikut! Padahal acaranya seru ya, Tante?” Wanita yang disebut Tante itu mengangguk ramah.

“Ya, perkenalkan aku Thearace Meria, dan ini adikku, Carina Meria. Kami adik dari ibumu,” Hirai tersedak mendengar nama itu. “10 tahun yang lalu keluarga Meria tinggal di rumah ini.. tapi kemudian ayah mewariskannya kepada Alice, dan kami pindah ke New Finkle. Tapi karena khawatir pada kalian akhirnya kami memutuskan untuk pindah kemari,” Megu melompat girang. “Horraay! Tante Thearace dan Tante Carina akan tinggal di sini!”

***

Minggu pagi yang cerah, Thearace mengajak seisi rumah untuk bersih-bersih dan beres-beres. Thearace membagi tugas; Lantai 1 oleh Hirai dan Carina, lantai 2 oleh Thearace dan Megu, sedangkan halaman dan lantai 3 oleh semuanya.

Di lantai tiga mereka harus bekerja ekstra. Mengecat ulang dinding, membersihkan dan menata perabotan antik yang tercecer, juga membereskan loteng. Hirai seperti merasa trauma masuk ke dalam loteng, ya meski sebenarnya itu hanya mimpi. Thearace masuk duluan ke dalam loteng. Lalu dia menatap cermin persegi panjang di pojokan. “Cermin ini..” gumamnya.

“Hmm.. kurasa cermin ini masih bagus,” Carina berkacak pinggang. “Ya, ayo kita bersihkan dan taruh di ruang tv!”

Selagi anak-anak itu mengelap cermin yang berdebu, Thearace mengelap jendela bersama Hirai. “Kau tahu? Cermin itu pernah membawaku ke sebuah tempat aneh,” celetuk Hirai tiba-tiba. “Hmm, apakah itu Worriestic?” tebak Thearace. Hirai mengangguk dengan cepat. “Ya, dulu saat masih seumuranmu aku juga pernah bermimpi terjatuh ke dalamnya, dan itu seakan-akan nyata,” Hirai kaget tak tebendung. “Apa kau juga kenal Sicha?” tanya Hirai. “Sicha.. putri dari DarkEye?” Thearace mengangguk-angguk lagi, kali ini lebih cepat. “Iya, dia juga dulu pernah tinggal di rumah ini dan mengalami hal yang sama dengan kita,” Hirai melongo. “Haha, dulu juga aku kaget mengetahuinya,”

Megu mengelap bingkainya. “Wah, ada ukirannya.. hmm, apa ini? W..wor..worri.. Worriestic?” Megu membacanya. Hirai dan Thearace bertukar pandang.

Thearace menceritakan, bahwa Sicha atau lengkapnya Rasicha Deona saat ini telah tumbuh menjadi remaja cantik di Kota New Finkle. Ayah Sicha ternyata adalah teman dekat kakek Hirai sekaligus pemilik pertama rumah itu. DarkEye di dunia Worriestic bukanlah ayah Sicha yang sesungguhnya di dunia nyata. Sebenarnya DarkEye (si Mata Gelap) adalah panggilan untuk Tuan Boy Wilton sang perancang rumah profesional. Dia sangat menginginkan anak perempuan seperti Sicha yang saat itu masih berumur tujuh tahun dan menganggapnya sebagi putrinya sendiri.

Tuan Boy ahli dalam bidang matematika dan mencintai kerumitan. Lalu dia mencoba bereksperimen membuat cermin berteknologi, namun kinerjanya salah dan dia malah tersedot masuk ke dalam cermin. Dan ya, tentu saja itu juga hanyalah mimpi. Mimpi-mimpi serupa yang turun temurun tiga generasi.

***

Setelah datangnya Thearace dan Carina, hidup Hirai dan Megu tak sama lagi. Berkat bisnis sepatu Thearace, Hirai dan Megu bisa makan enak setiap hari. Carina juga ternyata gadis yang rajin dan sopan, Megu dan Carina berada di sekolah yang sama sekarang. Hirai bisa kembali fokus bersekolah dan bergaul seperti kehidupannya dulu. Thearace tak lama kemudian menikah dengan pria cerdas dan sukses yang juga ikut tinggal di rumah mereka. Kini rumah jingga itu hangat dan menyenangkan berkat kebersamaan sebuah keluarga. []

Finally, Worriestic short story has finished! Thankyou so much, makasii banyak kalian-kalian yang udah nyempetin waktu buat baca cerpen amatiran ini :v
Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi yaaa Aamiin. Don't forget to like, share, and comment ya. I'll write another short story, ASAP! :)

Worriestic (Part 5)

#Part5

“Tempat konyol macam apa ini?” Hirai menepuk-nepuk bajunya yang kotor. “Menembus cermin dan kemudian terjatuh di kebun apel, benar-benar di luar akal,” celotehnya. “Meguu!” Hirai mencoba memanggil nama orang yang dicarinya. Tapi kemudian dia berpikir, sepertinya sia-sia mencari seorang anak kecil di tempat sepi seperti ini.

“Halo, apakah ada orang di sini?” begitu sunyi dan kelihatannya tidak ada orang. “Sial, benar-benar menyebalkan,” Hirai menendang apel-apel busuk yang berserakan di tanah. Matanya lalu menangkap siluet pudar sebuah bangunan, dan dia mulai berjalan mengikuti arah siluet itu.

Sosok berjubah gelap menyeret kaki palsunya perlahan. Bola matanya yang tinggal satu menyembul menatap Hirai yang pergi semakin jauh.. Bibirnya melebar, semuanya berjalan sesuai rencana.

***

Megu bersendawa. Es krim Vanilla Ceri buatan Thearace cocok di lidahnya, Megu bahkan hingga ketiduran karena saking nikmatnya. Thearace membangunkan Megu.

“Ayo bergegas, aku akan membawamu ke suatu tempat yang istimewa,” Megu menuruti kata-kata Thearace yang sudah menunggu di atas kuda dan segera menyusulnya.

Di perjalanan Megu banyak bertanya tentang kehidupan Thearace. Thearace lebih banyak diam dan mengalihkan pembicaraan jika pertanyaannya bersangkutan dengan pekerjaannya selama ini.

“Thearace, apakah kau mempunyai keluarga?” tanya Megu tiba-tiba. Mendengar pertanyaan itu Thearace mendadak murung.

Ibunya hangus dalam insiden kebakaran dan ayahnya meninggal di hari yang sama pada kecelakaan. Sedangkan adiknya, Carina hilang dua tahun kemudian dan beberapa hari setelah itu seorang aneh mengembalikannya dalam keadaan tak bernyawa.

“Thearace?”

“Hey lihat! Kita sudah sampai,” Thearace buru-buru mengganti obrolan dan memberhentikan kudanya di tengah-tengah padang rumput nan luas. Megu melompat turun dengan wajah bingung. “Padang rumput? Apanya yang istimewa?”

Thearace menyeringai. “Kau akan melihatnya sendiri,” gadis pirang itu berlari bebas ke arah barat. “Lihatlah mataharinya!” katanya sambil menunjuk ke arah langit. “Sebentar lagi ada sunset indah,”

***

Beberapa meter di belakang, Hirai dengan baju compang camping dan wajah kotor berjalan malas dengan ranting panjang sebagi penopang. “Haus sekali.. aku butuh air,” Hirai celingak-celinguk mencari sungai. Namun di sekelilingnya hanya terhampar rerumputan hijau. Samar-samar dia melihat orang lain berdiri di sana. “Hei! Hei yang di sana!” dengan semangat berkobar Hirai berlari kencang menghampiri seseorang di tengah sabana.

“Hai, maaf mengganggu,” katanya terengah-engah. “Apa kau tahu letak sungai terdekat dari sini?” Thearace membalikan badan. “Siapa kau?” tanyanya ketus. “Aku.. aku..” Hirai melirik orang lain di belakang Thearace.

Megu?!

“MEGU!” Hirai menjerit. Megu menoleh. Thearace kemudian tersentak. Mengapa.. orang ini kenal dengan Megu? Hirai mencoba untuk menghampiri adiknya namun Thearace buru-buru menahannya. “Jangan dekati adikku,” kata Thearace mantap. Mata Hirai membulat. “Adikmu? Jangan bodoh, dia adikku!”

Tiba-tiba sebuah tangan besar dan keriput mencengkeram lengannya.Terdengar sebuah bisikan serak di kuping kanan Hirai. “Adikmu akan mati setelah matahari terbenam.. Aku butuh jiwanya untuk membangkitkan putriku..” lalu suara itu perlahan memudar. “Siapa ka–”

Makhluk itu menyuntikkan cairan bius sebelum Hirai sempat melanjutkan kata-katanya. Ia berhasil membuat gadis itu roboh ke tanah. “Seret dia ke penjara bawah tanahku! SEKARANG!!!”

The ending and all the answers of the story will be in the next part:
Special Part (Final) coming soon!

Worriestic (Part 4)

Part 4

 

“Aduh!” Megu terjerembab ke semak-semak. Kepalanya agak pening. Gadis kecil itu mencoba berdiri. Lalu dia menatap ke sekelilingnya. “Tempat macam apa ini?” Gadis itu memandang pohon apel di hadapannya. Ya, pohon apel bertebaran sejauh mata memandang. Kepala mungilnya menengok ke segala arah, memastikan pemilik kebun apel itu tidak ada. Lalu Megu memetik satu apel dari sebuah ranting yang terjulur di depannya karena lapar. Tanpa berpikir gadis kecil itu mulai menggerogoti dan menikmati sensasi segar apel hijau digenggamannya. “Wah, lumayan juga,” decaknya.

“Hei pencuri apel!” sebuah teriakan anggun terdengar dari sela-sela pohon apel. Megu gelagapan, lalu menoleh ke belakang dengan panik. Gadis berkulit halus dengan dress hijau tosca dan sweater ungu muda sedang menunggangi seekor kuda putih yang berjalan menuju ke arahnya. Bibirnya tipis dan sorot matanya menggoda. Rambut pirang panjang bergelung hingga ke punggung. Oh Tuhan, dia benar-benar cantik.

“Dia lebih cantik dari gadis manapun yang pernah kulihat!” gumam Megu takjub. Gadis cantik itu melompat dari atas kuda. “Halo, aku Thearace,”

Megu melongo. “Aku Megu,” Thearace berjalan bak fashion model menghampiri Megu kemudian setengah berjongkok di hadapannya. “Oh, gadis kecil yang malang.. kau pasti lapar,” katanya iba. Megu mengangguk dengan gugup. “Berdiri dan duduklah di atas kudaku,” Thearace mengulurkan jari-jarinya yang lentik. Megu menyambar tangan Thearace dengan cepat kemudian bangkit. “Terima kasih,” kata Megu pendek.

***

Welcome! Hei Welcome! In the Worriestic Land.. Welcome! Hei Welcome! Hei Sweeety Giiiirl~” kurcaci-kurcaci bertopi polkadot berjalan berbaris di gerbang menyambut mereka dengan ramah. “Selamat datang di buku dongeng, Megu..” gumam Megu sumringah.

Kuda putih Thearace berhenti di depan sebuah bilik sederhana. Thearace melompat ke rumput dengan cekatan. Lalu Megu mencoba turun dari kuda degan ragu-ragu. “Tidak apa-apa, kok,” rayu Thearace sambil tertawa.

“Nah, mari masuk.. anggap saja ini rumahmu sendiri,” Thearace mengetuk-ngetuk pintu itu dengan ketukan berirama. Tak lama kemudian pintu kayu itu terbuka, tapi tidak ada orang di dalam. “APAKAH RUMAHMU BERHANTU, THEARACE?” Megu terlonjak.

“Hahaha, jangan konyol.. tidak ada hantu atau semacamnya di Worriestic. Pintu ini memang didesain khusus dengan teknologi ketukan,” jelas Thearace sambil melangkah masuk. Megu kemudian mengekornya.

Rumah Thearace memiliki bau sejuk yang khas, langit-langit nya lumayan tinggi. Banyak lampion berbentuk kerucut di berbagai sisi. Lalu Megu melirik ke sudut koridor, disitu ada buku besar bersampul hitam dengan simbol-simbol dan bau aneh. “Buku apa itu, Thearace?” Tanya Megu sambil menunjuk. Thearace menoleh ke arah telunjuk Megu. Wajahnya sekilas mengerut, kemudian dia kembali tersenyum. “Ehm.. i..itu yaa itu buku. Sudahlah tak usah dipikirkan toh tak ada urusannya denganmu,” Thearace buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Mau es krim vanilla ceri?” tawarnya. “Boleh!” sorak Megu girang sembari melompat ke atas sofa empuk di ruang depan.

Finally part 4 has been published! I'm so sorry for late upload this part, but I hope you enjoy it :)

Worriestic (Part 3)

#Part3

Hirai membuka pintu kamarnya, dia hendak ke kamar kecil. Sambil mengacak-ngacak rambut kusamnya gadis itu melihat raut wajahnya yang malas di depan cermin wastafel.

“Hhh.. Bahkan aku tidak bisa merawat diriku sendiri,” gumamnya.

Hirai menengadah ke balkon lantai dua. Bola matanya bergerak mencari sosok adiknya. “Meguu! Bisa tolong belikan aku sampo?” hening. “Megu!” kembali hening. “Ya ampun, dasar bocah,” Hirai berlari ke tangga dan menghentak-hentakan kakinya ke setiap anak tangga yang dinaikinya.

Hirai cepat-cepat membuka pintu kamar adiknya. “Megu!” tapi di kamar tidak ada orang. “Dimana sih, anak itu?” tanyanya kesal pada diri sendiri. Hirai mencari Megu ke setiap ruangan, bahkan lemari pendingin sekalipun. Dia juga mengecek keranjang pakaian di halaman belakang. “Oh, Tuhan. Masak’ iya bocah itu kabur?”

Karena letih mencari, gadis berambut ikal itu bersandar di tiang jemuran. Dia melihat ada semburat pelangi melengkung di atasnya. Perpaduan semilir angin dan bunyi gemericik air di sungai belakang terasa nyaman.. membuat Hirai terkantuk-kantuk..

“Kakak!” Megu tiba-tiba berdiri di samping tiang jemuran. Hirai tersentak, “Dari mana saja kamu?”

“Aku baru saja dari tempat yang menyenangkan! Disana aku sudah punya kakak perempuan yang cantik.. dan tentu saja tidak jahat sepertimu!” sahutnya bahagia.

“Kakak perempuan cantik.. apa? Jangan berkhayal, anak kecil!” Hirai berdiri sembari membersihkan dedaunan kering yang menempel di bajunya. “Nah, sekarang tolong belikan sampo ya!” tapi tiba-tiba Megu menghilang dengan sendirinya.

Hirai memandang sekeliling. Dia agak shock.

“Kakaak!” Megu melambai-lambai dari jendela loteng. Hirai menoleh ke atas, lalu tanpa diduga Megu melompat dari kusen jendela, terlihat seperti mencoba untuk mati. Hirai tersentak. Tubuh adiknya perlahan-lahan pudar dan berubah menjadi pelangi. “APA?!”

Buzz! Pelangi itu lalu terbakar dengan pekikan aneh dan lenyap seketika.

“MEGU!” Hirai bangkit dari lelapnya. Dengan bingung dia menatap jendela loteng. Pelangi itu! Pelanginya benar-benar ada! Hirai dengan cekatan berlari ke lantai tiga.

“Kotor sekali disini..” gumamnya setelah sampai di lantai tua itu. “Aku rasa tidak mungkin bocah penakut itu ada disini.. lihat saja dindingnya sebegitu mengerikannya,” Hirai mencoba menghindari tembok yang penuh dengan jamur dan rambatan lumut. Tiba-tiba terdengar suara tawa anak kecil dari balik sebuah pintu. Hirai terhenti melangkah.

“Ya ampun,” decaknya. “Ini horor,”

Part 4 soon:) Like, comment, and share! Thankyou so much readers!

Worriestic (Part 2)

#Part2

Rumah besar bercat jingga dengan pagar semi kayu itu terlihat sunyi dan tak terawat. Memang, semenjak Ayah dan Ibu tiada Hirai dan Megu terpaksa hidup mengenaskan. Kerabat-kerabat tidak ada yang mau merawat mereka, katanya hanya akan menambah beban dan mengganggu kesibukan karir.

Sudah dua tahun ini Hirai menggeluti usaha kartu nama sebagai pekerjaan sampingannya untuk menghidupi mereka berdua. Pesanan yang diterimanya kadang menumpuk hingga dikerjakannya sampai larut, namun kadang juga hanya seorang pelanggan yang memintanya membuatkan kartu. Penghasilannya pun tidak seberapa, tapi yah.. cukuplah untuk makan dua kali sehari.

Seperti hari ini, gadis lima belas tahun itu kini tengah sibuk di depan meja kerjanya.

“Kakaak!” Megu tiba-tiba menggedor-gedor pintu kamar kakaknya. “Bisa diam, nggak sih?” sahut Hirai.

“Bantu aku kerjakan PR dong, Kak.. sekali in-” Hirai cepat-cepat memotong. “Pergi!” teriaknya. “Aku sangat sangat sibuk dan aku TIDAK PUNYA WAKTU untuk itu!!” Megu terlonjak. Jantungnya serasa berhenti seketika. Tidak pernah sebelumnya dia mendengar Hirai memarahinya.

“Enyahlah. Kamu.. cuma menyulitkanku,” Megu bisa mendengar desah pelan kakaknya dari balik pintu.

Kemudian gadis sembilan tahun itu menunduk, dia tidak menyangka Hirai yang baik kini seperti penyihir dalam dongeng. Sambil menahan tangis Megu mendekap buku pelajarannya lalu berlari kecil menuju halaman belakang.

***

Megu merebahkan diri di atas rerumputan. Mata sembabnya menerawang ke langit. Andai aku tidak serumah dengan orang sibuk itu, tentu aku bahagia.. Lalu tiba-tiba matanya menangkap seberkas cahaya warna-warni yang menari-nari di atas loteng. Dahinya mengerut.

Pelangi? Bukankah ini musim kemarau? Dia mencari-cari bekas hujan di rerumputan, namun nihil. Karena penasaran, Megu dengan semangat tinggi berlari ke tangga menuju lantai tiga.

“Uhuk, uhuk..”

Lantai tiga penuh dengan debu. Sejak mereka pindah ke sini dua tahun lalu, lantai ini memang belum terjamah oleh siapapun di rumah itu. Ayah sengaja menutup tangga menuju kesana dengan tripleks. Banyak jaring laba-laba yang menggantung di langit-langit dan kecoak-kecoak kecil yang mondar-mandir. Untuk sesaat, suasananya memang mencekam.. namun pandangannya langsung teralih pada pintu kecil di ujung lorong. Pintu loteng dia rasa.

Krieeett…  Megu membuka pintu itu perlahan-lahan.

Benar! Pelangi itu berasal dari sebuah cermin tua di pojok loteng. Megu berjalan mendekati cermin itu karena tertarik dengan warnanya yang seakan membuai dan menariknya untuk lebih dekat. “Ya ampun.. indah sekali, Kak Ray benar-benar harus melihatnya..” gumam Megu dengan takjub.

Dia berjalan semakin dekat menuju cermin kemudian kakinya tersandung sebuah kotak berdebu di depannya. “Aahh!” tubuhnya doyong ke depan dan terjatuh. Ya, terjatuh. Benar-benar terjatuh ke dalam cermin.

Part 3 soon. Thanks readers! Don't forget to like, comment, and share!

Worriestic (Part 1)

#Part1

Hirai buru-buru membuka pintu toko dan langsung berlari keluar tanpa memedulikan uang kembaliannya. Dia berlari-lari kecil menyusuri Jalan Raya Walker sambil menenteng tas karton berisi kotak hitam mungil.

Kotak itu berisi jam tangan perak unik buatan Prancis yang selalu direngekkan ibunya setiap kali melewati Coolwatch Store. Dia nyaris lupa hari ini adalah hari ulang tahun ibunya! Aduh, gawat! Pasti Megu dan Ayah sudah tidak sabar menungguku di rumah, batinnya.

“Kak Ray datang!” Megu melompat dari sofa dan langsung membukakan pintu. Hirai cepat-cepat melepas sepatunya dan menaruh kotak hitam yang dibawanya di atas meja di ruang keluarga.

Meja itu sudah penuh dengan kue tar yang masih hangat dan beberapa kado lain dari Megu dan Ayah. Balon warna-warni dan pita-pita norak dipasang rapi di tiap pojok langit-langit. “Hirai! Akhirnya kamu datang!” sambut Ayah.

“Jam berapa ini? Aku pikir Ibu sudah di rumah,” gumam Hirai pada dirinya sendiri sambil menengok ke arah jam dinding. Waw, masih sepuluh menit lagi! Secepat itukah aku berlari? Batinnya sambil tersenyum. Lalu matanya menatap handphone yang digenggam Ayah. “Oh ya, Yah. Apakah Ayah sudah mengabari Ibu untuk pulang cepat?” Ayah menatap layar telponnya sambil menguap. “Sudah beberapa kali Ayah coba telpon tapi handphone-nya selalu tidak aktif,” raut mukanya sedikit kesal. “Padahal kan biasanya bla bla bla..”

Hirai memutar bola matanya. Kemudian dia menyibukkan diri dengan menata kue-kue di atas meja. Celoteh Ayah sering terlalu berkepanjangan, Hirai jadi mual mendengarkannya. Lalu Ayah tiba-tiba berjingkrak-jingkrak seraya melambaikan kedua tangannya. “Wuhuu, ini pertama kalinya kita mengadakan pesta di rumah baru, bukan? Oh, Ayah sungguh senang!” Hirai dan Megu saling melempar pandangan, mereka lalu tertawa melihat tingkah konyol ayahnya.

Drrt.. Drrt.. handphone Ayah tiba-tiba bergetar. Ayah terlihat sumringah menerima telpon itu.“Ya, Halo? Ada apa Pak Cate?” Ah ya, pasti ada kabar gembira tentang ibu. Mungkin ada kenaikan prestasi di bidangnya. Pak Cate tentu bisa saja menaikkan posisi ibu ke tingkat manajer, bukankah dia seorang direktur perusahaan?

Namun tiba-tiba senyum ayah mendadak berubah menjadi lengkungan menakutkan dan matanya membulat.

“Jangan bercanda!” Hirai bergidik melihatnya. Ayah diam tak berkedip untuk beberapa saat, seakan-akan dia juga berhenti bernapas. “Kenapa, Ayah?” tanya Hirai penasaran.

Ayah seperti tak mampu untuk berkata-kata, telpon yang digenggamnya terhempas ke lantai begitu saja. Megu melompat kaget. Hirai segera menghampiri Ayah sambil terus menerus menanyakan apa yang terjadi.

“Kebakaran..” gumam Ayah tak jelas. Matanya berkaca-kaca, bola matanya bergerak menatap Hirai.

“I..i..Ibu..” Hirai terbelalak, tangannya menutup mulut agar tidak berteriak. Megu yang masih berumur tujuh tahun menjerit keras dan menangis. Ayah  menyusut matanya dengan ibu jari kanan, lalu berlari keluar dan melompat ke dalam mobil.

“Ayahh!!” jerit Megu seraya berurai air mata. “Aku ikut, Ayah!”

Hirai menahan lengan Megu. “Diamlah di rumah! Ayah mencintai kalian!” teriak Ayah dari dalam mobil. Megu meronta-ronta dan berlari menuju mobil. Ayah cepat-cepat tancap gas tanpa memedulikan isak tangis bungsunya. Megu mengejar mobil Ayah sampai ke tikungan. Hirai berlari menyusul Megu yang terduduk di tengah jalan sambil menangis menjerit-jerit. “AYAAHH!!”

Hirai memeluk Megu dan mengusap air matanya. “Sudah, jangan menangis. Ayah dan ibu akan baik-baik saja..”Tanpa sadar matanya juga telah basah. Hirai mendekap Megu semakin erat, dia juga takut.

“Ayah.. Ibu.. mengapa aku punya firasat mengerikan?” gumamnya.

What do you think? Like, comment, and share!
Part 2 soon! :)

Worriestic (Prolog)

Genre: Indonesian shortstory, Fiction, Sisterhood, Adventure, Mystery
Language: Bahasa Indonesia

#Prolog

Jari-jarinya berusaha menggapai  tirai jendela yang menggantung di sudut ruangan. Lalu disibakkannya dengan segenap kekuatan yang tersisa.

Peluh mengalir di setiap lekukan wajahnya. Seberkas cahaya oranye nan lembut merambat ke seluruh dinding.  Gadis itu mengerjap. Jantungnya berdegup cepat. Kemudian matanya mulai basah, bibirnya membisikkan kutukan.

Rasa penyesalan membakar pikirannya, dia tahu cepat atau lambat dia akan menjadi sebatang kara. Namun dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Mentari sudah akan terbenam, kisah sang kakak beradik hampir usai..

What do you think? If you like it, please like, comment, and share! I will post the part 1 as soon as possible!:)
P.S I accept any advice and suggestions, so please your respond!:)